5 Penyakit Menular Berbahaya Akibat Polusi Air

by frida on Oct 4, 2016
5 Penyakit Menular Berbahaya Akibat Polusi Air
Polusi air dapat menyebabkan timbulnya penyakit bagi manusia. Dalam hal ini polusi air dapat menyebabkan terjadinya penyakit menular ataupun yang tidak menular. Penyakit menular melalui air bisa disebabkan oleh beberapa hal seperti bakteri, metazoa, protozoa, dan lain-lain. Jika kondisi badan anda telah lemah dan kekebalan tubuh juga buruk maka penyakit entah yang berasal dari polusi air ataupun jenis penyakit yang lain dapat menjangkiti seseorang dengan mudah.

1. Penyakit Diare Akibat Bakteri E. coli (Escherichia coli)

Bakteri yang hidup di saluran pencernaan ini pada umumnya tidak berbahaya. Namun, terdapat beberapa jenis E. coli yang dapat menyebabkan diare, bahkan kadang-kadang  disertai darah.

E. coli terdapat pada kotoran-kotoran hewan dan manusia. Kotoran ini bisa terbawa ke air, seperti danau atau kolam renang. Pada saat inilah E.coli menyebabkan pencemaran air. Air danau atau air kolam renang yang tertelan menjadi jalan E.coli masuk dan menginfeksi tubuh. Pasokan air minum juga dapat tercemar oleh bakteri ini.

Untuk meminimalkan risiko terkena infeksi penyakit akibat pencemaran air, Anda disarankan sering mencuci tangan, serta lebih menjaga makanan dan minuman yang dikonsumsi agar selalu bersih.

Gejala-gejala Akibat Infeksi E. Coli

Gejala infeksi bakteri E. coli biasanya dimulai tiga hingga empat hari setelah tubuh terpapar oleh bakteri, tapi Anda akan mulai merasa sakit pada satu hari hingga lebih dari satu minggu kemudian. Berikut ini adalah gejala-gejala yang muncul akibat infeksi E. coli:
  • Perut kram.
  • Diare, dengan tingkat keparahan ringan hingga parah, dan bahkan berdarah.
  • Kehilangan selera makan.
  • Mual dan muntah.
  • Demam.
  • Kelelahan.
Gejala-gejala ini biasanya bertahan hingga satu minggu jika tidak terjadi komplikasi, tapi beberapa infeksi E. coli bisa sangat berbahaya. Semua orang yang mengalami infeksi E. coli berisiko terhadap komplikasi, tapi komplikasi lebih cenderung terjadi pada anak-anak. Hal ini disebabkan anak-anak lebih susah untuk bertahan ketika kehilangan banyak cairan dan darah akibat muntah dan diare.

Salah satu komplikasi paling serius dan bisa membahayakan nyawa dari infeksi E. coli adalah sindrom hemolitik uremik, yaitu sebuah kondisi ketika sel darah merah menjadi rusak dan bisa berakibat pada gagal ginjal.

Cara Mengobati Infeksi E. coli

Infeksi bakteri E. coli yang menyebabkan infeksi saluran pencernaan biasanya tidak ditangani dengan antibiotik karena bisa meningkatkan risiko komplikasi yang lebih serius. Yang terpenting dalam menangani kondisi ini adalah dengan meminum banyak air putih untuk menggantikan cairan yang hilang akibat diare dan muntah-muntah. Selain itu Anda juga disarankan untuk istirahat secukupnya.
Untuk mengatasi dehidrasi pada anak yang mengalami diare, cairan oralit bisa membantu memulihkan cairan dalam tubuh mereka. Selain itu, oralit juga berfungsi menggantikan sodium, potasium, dan juga glukosa dalam tubuh.

Jangan memberikan obat-obatan antidiare yang akan melambatkan sistem pencernaan Anda karena obat ini akhirnya akan mencegah terbuangnya racun keluar dari tubuh. Jika infeksi E. coli yang terjadi cukup serius dan menyebabkan sindrom hemolitik uremik, Anda harus segera dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.

2. Hepatitis A - Hepatitis A merupakan salah satu penyakit yang dapat menyerang organ hati dan disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A yang dapat menyebar dengan sangat mudah. Tidak hanya ditularkan melalui air yang tercemar, penyakit hepatitis A juga dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan penderita.

Hepatitis A paling ringan dibanding hepatitis jenis lain (B dan C). Sementara hepatitis B dan C disebarkan melalui media darah dan aktivitas seksual dan lebih berbahaya dibanding Hepatitis A.

Hepatitis A dapat dibagi menjadi 3 stadium; Pertama, pendahuluan (prodromal) dengan gejala letih, lesu, demam, kehilangan selera makan dan mual. Kedua, stadium dengan gejala kuning (stadium ikterik); dan ketiga, stadium kesembuhan (konvalesensi). 

Gejala kuning tidak selalu ditemukan. Untuk memastikan diagnosis harus dilakukan pemeriksaan enzim hati, SGPT, SGOT. Karena pada hepatitis A juga bisa terjadi radang saluran empedu, maka pemeriksaan gama-GT dan alkali fosfatase dapat dilakukan di samping kadar bilirubin.

Masa Inkubasi
Hepaptis A memiliki masa inkubasi atau waktu terekspos sampai terkena penyakit kira-kira 2 sampai 6 minggu. 

Gejala
Penderita akan mengalami gejala-gejala seperti demam, lemah, letih, dan lesu. Pada beberapa kasus, seringkali terjadi muntah muntah yang terus menerus sehingga menyebabkan seluruh badan terasa lemas. Demam yang terjadi adalah demam yang terus menerus, tidak seperti demam yang lainnya seperti demam berdarah, tbc, dan thypus. 

Gejala lainnya adalah kulit dan mata menjadi kuning, air kencing berwarna tua, tinja pucat. Namun patut diwaspadai, gejala-gejala fisik seperti itu seringkali tidak terlihat pada anak kecil. 

Pencegahan 
Untuk mencegah hepatitis A. Semua orang harus selalu mencuci tangan dengan baik dengan sabun dan air mengalir selama sekurang-kurangnya 10 detik dan dikeringkan dengan handuk bersih. Cuci tangan dapat dilakukan sebagai berikut:
  1. Setelah menggunakan kakus
  2. Sebelum makan
  3. Sebelum menyiapkan makanan atau minuman
Pencegahan yang dapat dilakukan oleh penderita hepatitis A, di samping mencuci tangan dengan bersih adalah harus menjauhi dari kegiatan berikut sekurang-kurangnya seminggu setelah timbulnya penyakit, tanda dan gejala:
  1. Jangan menyiapkan makanan atau minuman untuk orang lain
  2. Jangan menggunakan alat makan atau alat minum yang sama dengan orang lain
  3. Jangan menggunakan seprai dan handuk yang sama dengan orang lain
  4. Jangan berhubungan kelamin
  5. Cuci alat makan dalam air bersabun, dan cuci seprai dan handuk dengan mesin cuci.
3. Disentri - Disentri merupakan penyakit peradangan pada usus besar yang ditandai dengan rasa sakit perut dengan gejala BAB yang encer dan terkadang disertai dengan lendir bahkan darah. Disentri disebabkan oleh bakteri amuba serta basiler. Bakteri tersebut dapat tersebar melalui bakteri yang dibawa oleh lalat yang hinggap pada air atau makanan yang sebelumnya telah terkontaminasi dengan kotoran.
Bakteri yang masuk ke dalam pencernaan selanjutnya akan mengakibatkan pembengkakan serta menimbulkan luka dan peradangan pada bagian dinding usus besar.
Gejala yang biasa dialami oleh para penderita adalah gangguan pencernaan yaitu:
  • BAB encer. 
  • Perut mulas.
  • Rasa perih pada bagian usus akibat buang air besar yang terlalu sering.
Menjaga air agar tidak terkena zat-zat berbahaya bisa anda lakukan dengan cara menjaga lingungan serta menjauhkan sumber air anda dari limbah. Perlu diketahui, ada beberapa jenis penyakit yang dapat menular melalui binatang terbang seperti halnya lalat. Hindarkan makanan serta minuman anda jauh dari hinggapan lalat dengan cara menutup makanan serta tempat minum dengan rapat.

4. TifusPenyakit tifus merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Penyakit ini diakibatkan oleh kurang memelihara kebersihan lingkungan dan mengonsumsi makanan yang tidak higienis.

Penyakit tifus menular melalui air dan makanan yang tercemar oleh air seni dan tinja penderita penyakit ini. Penyakit tifus dapat juga ditularkan oleh kotoran yang dibawa oleh lalat dan kecoa dan menempel di tempat-tempat yang dihinggapinya.Penularan kuman terjadi melalui mulut, masuk ke dalam lambung, menuju kelenjar limfoid usus kecil, kemudian masuk ke dalam peredaran darah.
Pada umumnya, mereka yang terinfeksi penyakit ini akan mengalami keluhan dan gejala seperti demam tinggi, sakit kepala, mual, muntah, nafsu makan menurun, sakit perut, diare atau sembelit (sulit buang air besar). Suhu tubuh meningkat terutama pada sore dan malam hari.

Pencegahan penyakit tifus dapat dilakukan dengan membiasakan melindungi makanan dari hewan pembawa penyakit, seperti lalat, kecoa dan tikus; mencuci tangan dengan sabun setelah buang air dan sebelum makan; serta menghindari membeli jajanan di tempat-tempat yang kurang bersih.

5. KoleraKolera adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae yang menyerang usus kecil. Bakteri ini biasanya masuk ke dalam tubuh melalui air minum yang terkontaminasi akibat sanitasi yang buruk.
 
Di dalam tubuh manusia, bakteri Vibrio cholerae akan menghasilkan racun yang menyebabkan usus halus melepaskan sejumlah besar cairan garam dan mineral dari dalam tubuh. Bakteri ini amat sensitif terhadap asam lambung, sehingga penderita yang kekurangan asam lambung cenderung menderita penyakit ini.
Penderita kolera akan mengalami gejala mulai dari diare hebat, keram perut, mual, muntah, hingga dehidrasi. Kolera dapat menyebar luas dengan sangat cepat, terutama di lingkungan yang tidak bersih.
Penderita yang mengalami gelaja di atas sebaiknya segera diberikan pertolongan dengan mengantarkannya ke rumah sakit atau puskesmas agar untuk diberi cairan infus.Obat infus harus diberikan selekas mungkin. Semakin cepat cairan infus diberikan, semakin baik.

Sebagai pertolongan pertama, penderita kolera harus diberi air minum dalam jumlah cukup banyak, karena kematian pada kolera lebih disebabkan kekurangan cairan, bukan keganasan bakteri kolera.

Jagalah kebersihan rumah yang ada penderita kolera. Dalam kondisi itu, usahakan untuk selalu menggunakan sendok saat menyantap makanan dan lebih sering mencuci tangan dengan sabun. Muntahan dan tinja penderita kolera merupakan sumber bakteri kolera. Oleh karena itu, kamar mandi dan kamar kecil sebaiknya dibersihkan dengan menggunakan larutan antiseptik pembasmi bakteri.
Sumber
www.halosehat.com
www.medianers.blogspot.co.id
www.alodokter.com